Budaya Internasional

Puasa di Jepang Bikin Kaget! Ini 7 Tantangan dan Tips Bertahan Ramadan di Negeri Sakura

Bayangkan kamu harus puasa Ramadan di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim—tanpa azan, tanpa takjil gratis, dan dengan suhu dingin menusuk tulang. Inilah realita puasa di Jepang yang mungkin belum banyak kamu ketahui! Tahun 2025 ini, Ramadan jatuh di musim semi, tapi suhu saat sahur masih bisa mencapai 5 derajat Celsius. Bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga bagaimana menjaga semangat ibadah di lingkungan yang sama sekali tidak merasakan Ramadan.

Tugasin paham betul, menjalani ibadah di tengah kesibukan kuliah atau kerja memang butuh usaha ekstra. Apalagi kalau kamu sedang studi di luar negeri seperti Jepang. Nah, artikel ini akan membantumu memahami tantangan puasa di Jepang beserta tips-tips jitu untuk tetap semangat menjalankannya. Yuk, simak cerita dan solusinya!

Tantangan Sahur Di Jepang – Dingin, Sepi, dan Alarm Jadi Penyelamat

Sahur di Jepang itu ibarat perang melawan diri sendiri. Alarm berbunyi pukul 03.45 pagi, tapi udara dingin langsung membuatmu ingin kembali ke kasur. Di Indonesia, suasana sahur selalu ramai—keluarga bangun bersama, suara orang-orang membangunkan sahur di jalan, atau bahkan iklan sirup yang terasa lebih menggoda. Tapi di Jepang? Hanya ada kesunyian dan rasa kantuk yang harus kamu lawan sendiri.

Karena malas ribet di pagi buta, biasanya kamu sudah menyiapkan makanan sejak malam. Menu sahur pun nggak jauh-jauh dari sisa makan malam sebelumnya. Masak sahur dalam kondisi setengah sadar? Itu perjuangan tersendiri! Kadang hanya nasi dengan lauk sederhana, atau sekadar roti dan susu kalau lagi nggak nafsu makan.

Waktu sahur juga terasa sempit. Kamu harus selesai makan sebelum pukul 04.30. Kadang panik juga, takut kebablasan dan nggak sempat minum cukup air. Tapi yang paling sulit? Melawan rasa malas buat bangun sahur! Di Indonesia, ada suara azan Subuh sebagai tanda waktu imsak. Di Jepang, kamu harus benar-benar bergantung pada alarm dan jam.

Tips Tugasin: Atur alarm dengan nada yang ceria atau letakkan ponsel jauh dari jangkauan agar kamu terpaksa bangun. Siapkan juga makanan praktis seperti oatmeal atau roti gandum yang bisa langsung disantap tanpa repot. Kalau kamu butuh bantuan untuk menyusun jadwal ibadah yang efektif di tengah kesibukan kuliah, Tugasin siap membantumu dengan jasa joki tugas agar waktu dan energimu lebih fokus pada ibadah.

Cara Bertahan Puasa Di Cuaca Dingin – Rasa Haus Tetap Ada Meski Nggak Berkeringat

Puasa di Indonesia biasanya identik dengan cuaca panas dan keringat yang bikin haus. Tapi di Jepang? Kebalikannya! Ramadan tahun ini jatuh di musim semi, tapi suhu masih berkisar antara 5-15 derajat Celsius. Angin kencang bahkan bisa bikin badan menggigil meski sudah pakai jaket tebal. Uniknya, meski dingin, rasa haus tetap terasa karena udara di Jepang sangat kering.

Awalnya, kamu mungkin berpikir cuaca dingin akan memudahkan puasa. Tapi nyatanya, tubuh tetap butuh cairan. Rasa haus justru lebih terasa karena tenggorokan cepat kering. Kalau di Indonesia kamu mungkin kepikiran es teh manis saat berbuka, di sini malah lebih kepikiran teh panas atau sup hangat.

Tips Tugasin: Minum air putih yang cukup saat sahur dan hindari makanan yang terlalu asin atau manis. Kamu juga bisa menyiapkan minuman hangat seperti jahe atau teh herbal untuk berbuka. Jangan lupa, jaga kehangatan tubuh dengan pakaian berlapis agar energi tidak cepat terkuras.

Berbuka Puasa Tanpa Azan – Disiplin Jadi Kunci Utama

Salah satu hal yang paling dirindukan saat puasa di Jepang adalah suara azan magrib. Di Indonesia, azan menjadi alarm alami yang menandakan waktu berbuka. Tapi di Jepang, jumlah masjid sangat sedikit, dan pastinya nggak ada pengeras suara di jalanan seperti di Indonesia. Kamu harus selalu mengecek waktu berbuka sendiri lewat aplikasi atau jam.

Awalnya, rasanya aneh. Biasanya kita punya alarm alami berupa suara azan, tapi di Jepang, berbuka jadi terasa lebih sepi dan sunyi. Kamu harus benar-benar disiplin dan nggak boleh kelewatan waktu magrib. Kalau sampai terlambat, puasa jadi lebih berat karena tubuh sudah kelelahan.

Tips Tugasin: Gunakan aplikasi pengingat waktu sholat seperti Muslim Pro atau Athan untuk memastikan kamu nggak ketinggalan waktu berbuka. Pasang juga alarm di ponsel sebagai backup. Kalau kamu kesulitan mengatur waktu antara kuliah, kerja, dan ibadah, Tugasin bisa membantumu dengan jasa joki tugas agar kamu bisa lebih fokus pada ibadah.

Makanan Halal Saat Puasa Di Jepang – Takjil Gratis? Nyaris Nggak Ada!

Di Indonesia, takjil gratis di masjid atau pinggir jalan adalah pemandangan biasa saat Ramadan. Bahkan kalau malas masak, tinggal beli kolak atau gorengan di warung terdekat. Tapi di Jepang? Takjil gratis itu sesuatu yang langka! Kalau mau berbuka, kamu harus masak sendiri atau beli makanan dari supermarket. Pilihan makanan halal juga nggak sebanyak di Indonesia.

Awalnya, kamu mungkin kaget karena nggak ada gorengan, kolak, atau es buah yang jadi menu khas berbuka di Indonesia. Tapi, kamu bisa menyesuaikan diri dengan makanan lokal yang halal. Misalnya, mochi yang teksturnya mirip kue basah, atau anpan, roti dengan isian kacang merah yang rasanya manis dan cocok untuk berbuka.

Tips Tugasin: Stok makanan praktis seperti kurma, roti gandum, atau biskuit untuk berbuka. Kalau kamu punya waktu, coba masak makanan sederhana seperti sup atau nasi dengan lauk yang bisa disimpan di lemari es. Kalau kamu butuh bantuan untuk menyusun menu berbuka yang sehat dan praktis, Tugasin bisa membantumu dengan jasa joki makalah atau tugas kuliner agar kamu punya lebih banyak waktu untuk mempersiapkan ibadah.

Tips Disiplin Puasa Di Negara Non Muslim – Mental Jadi Tantangan Utama

Puasa di negara non-Muslim seperti Jepang bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Tantangan terbesarnya justru datang dari lingkungan sekitar. Orang-orang tetap makan dan minum di tempat umum, restoran buka seperti biasa, dan nggak ada yang mengingatkan waktu berbuka. Kamu harus benar-benar mandiri dalam menjalankan ibadah.

Kamu mungkin harus menahan diri saat melihat orang lain dengan santainya menyeruput kopi panas di kereta atau makan ramen di restoran. Godaannya lebih ke mental, bukan hanya fisik. Karena itu, disiplin dan niat yang kuat jadi kunci utama.

Tips Tugasin: Cari komunitas Muslim di sekitar tempat tinggalmu. Di Jepang, ada banyak komunitas Muslim yang bisa kamu ikuti untuk berbuka bersama atau sekadar berbagi cerita. Kamu juga bisa mencari masjid terdekat yang biasanya mengadakan buka puasa bersama. Dengan begitu, kamu nggak merasa sendirian dan bisa tetap semangat menjalani puasa.

Buka Puasa Bersama Komunitas Muslim Jepang – Rasakan Kebersamaan Ramadan

Berbuka sendirian di kamar atau kantor memang terasa sepi. Tapi untungnya, di beberapa kota besar seperti Tokyo, Osaka, atau Kyoto, ada banyak masjid dan komunitas Muslim yang mengadakan buka puasa bersama. Di sana, kamu bisa bertemu dengan Muslim dari berbagai negara, berbagi cerita, dan merasakan sedikit kebersamaan Ramadan seperti di Indonesia.

Beberapa masjid bahkan menyediakan makanan halal gratis untuk jamaah. Jadi, kalau ada kesempatan, jangan ragu untuk mampir. Selain bisa merasakan suasana Ramadan yang lebih akrab, kamu juga bisa mendapatkan makanan berbuka yang lezat dan halal.

Tips Tugasin: Cari tahu jadwal buka puasa bersama di masjid atau komunitas Muslim terdekat. Kamu juga bisa bergabung dengan grup WhatsApp atau LINE komunitas Muslim di kota tempat tinggalmu. Kalau kamu butuh bantuan untuk mencari informasi atau menyusun laporan tentang komunitas Muslim internasional, Tugasin siap membantumu dengan jasa joki tugas. Dengan begitu, kamu bisa lebih fokus pada ibadah dan kebersamaan.

Perbedaan Puasa Di Jepang Vs Indonesia – Mana yang Lebih Berat?

Ada banyak perbedaan antara puasa di Jepang dan Indonesia. Di Indonesia, suasana Ramadan terasa di mana-mana—ada iklan-iklan khas Ramadan, penjual takjil di setiap sudut jalan, dan masjid-masjid yang selalu ramai pengunjung. Tapi di Jepang, hampir nggak ada tanda-tanda Ramadan. Kamu harus benar-benar mandiri dalam menjalankan ibadah.

Durasi Puasa: Di Jepang, waktu puasa lebih lama dibanding di Indonesia. Sahur berakhir sekitar pukul 04.30 pagi, sementara waktu berbuka baru tiba sekitar pukul 18.00 lebih. Totalnya bisa sekitar 14 jam lebih! Awalnya mungkin terasa biasa, tapi karena ritme hidup di Jepang tetap padat, rasanya tetap menantang.

Suasana Ibadah:

  • Di Indonesia: Suasana Ramadan sangat terasa, mulai dari azan yang berkumandang, takjil gratis, hingga buka puasa bersama keluarga.
  • Di Jepang: Suasana sepi, harus mandiri, dan sering kali berbuka sendirian.

Makanan Berbuka:

  • Di Indonesia: Gorengan, kolak, es buah, dan berbagai makanan khas Ramadan mudah ditemukan.
  • Di Jepang: Harus masak sendiri atau mencari makanan halal yang terbatas.

Meskipun penuh tantangan, puasa di Jepang justru mengajarkanmu untuk lebih mandiri, disiplin,dan menghargai suasana Ramadan. Nggak ada euforia seperti di Indonesia, tapi justru di situ letak perjuangannya. Ramadan jadi terasa lebih personal dan lebih bermakna.


Tim Redaksi
Tim Redaksi Website
Butuh Bantuan dengan Tugasmu?

Tim ahli kami siap membantu kamu menyelesaikan tugas dengan cepat dan berkualitas.

Konsultasi Gratis