Budaya

Mengapa UGM Dinamai Gadjah Mada Bukan Hayam Wuruk Ini Alasannya

Kamu pasti pernah bertanya-tanya, mengapa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia tidak dinamai Hayam Wuruk, sang raja besar Majapahit? Padahal, Hayam Wuruk adalah sosok yang membawa Majapahit ke puncak kejayaannya. Lalu, mengapa justru Gadjah Mada, seorang patih, yang dipilih sebagai nama kampus kebanggaan Yogyakarta ini? Jawabannya ternyata menyimpan filosofi dan harapan besar dari para pendirinya, lho!

Sejarah Pemilihan Nama UGM

Nama sebuah universitas bukan sekadar identitas, tapi juga cerminan nilai dan harapan. Di Jawa, nama memiliki makna yang sangat sakral, bahkan dianggap sebagai doa orang tua bagi anaknya. Begitu pula dengan UGM. Presiden Soekarno, sebagai “orang tua” bagi universitas ini, memilih nama Gadjah Mada dengan alasan yang sangat mendalam. Bukan tanpa pertimbangan, Soekarno ingin UGM menjadi tempat yang melahirkan pemimpin-pemimpin seperti Gadjah Mada—seseorang yang berasal dari rakyat jelata namun mampu mencapai puncak kejayaan melalui kerja keras, visi yang tajam, dan pengabdian tanpa pamrih.

Gadjah Mada memang bukan pahlawan kemerdekaan Indonesia, tapi sosoknya melambangkan semangat perjuangan dan kesetiaan yang luar biasa. Berbeda dengan Hayam Wuruk yang merupakan raja, Gadjah Mada adalah patih yang berhasil membawa Majapahit ke masa keemasannya. Pemilihan nama ini seolah ingin menegaskan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh keturunan, melainkan oleh usaha dan dedikasi. Menarik, bukan?

Makna Sumpah Palapa Bagi Mahasiswa UGM

Salah satu alasan kuat mengapa Soekarno memilih nama Gadjah Mada adalah karena Sumpah Palapa. Sumpah ini adalah janji Gadjah Mada untuk tidak akan menikmati kesenangan (dalam hal ini, makan buah palapa) sebelum berhasil menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Filosofi ini kemudian diadopsi oleh UGM sebagai semangat bagi para mahasiswanya.

Bagi mahasiswa UGM, Sumpah Palapa bisa diartikan sebagai tekad untuk bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Artinya, kamu harus rela melalui proses belajar yang penuh tantangan, melewati dinamika kampus, dan berjuang keras sebelum akhirnya meraih kesuksesan. Filosofi ini mengajarkan bahwa perjuangan adalah bagian dari proses, dan hasil yang manis akan terasa lebih bermakna setelah melalui perjalanan yang berat.

Jika kamu sedang merasa lelah dengan tugas kuliah atau skripsi, ingatlah Sumpah Palapa ini! Tugasin siap membantumu melewati masa-masa sulit dengan jasa joki tugas atau joki skripsi agar kamu bisa fokus pada tujuanmu tanpa terbebani.

Ajaran Hidup Gadjah Mada Yang Menginspirasi

Gadjah Mada tidak hanya dikenal karena Sumpah Palapanya, tapi juga karena empat ajaran hidup yang sangat relevan hingga saat ini. Ajaran-ajaran ini menjadi pedoman bagi UGM dalam membentuk karakter mahasiswanya. Yuk, kita bahas satu per satu!

  • Trisna Tan Satrisna – Tidak pilih kasih. Ajaran ini mengajarkan untuk bersikap adil dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan status atau latar belakang.
  • Haniakan Musuh – Menghilangkan musuh bukan dengan kekerasan, tapi dengan menjadikan mereka sebagai teman. Dalam konteks modern, ini bisa diartikan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan konflik dengan bijak.
  • Satya Haprabu – Taat kepada pemimpin atau atasan. Loyalitas ini bukan berarti membabi buta, tapi lebih kepada kesetiaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
  • Ginong Pati Dino – Berkembang setiap hari. Ajaran ini menekankan pentingnya belajar dan berlatih secara terus-menerus untuk menjadi lebih baik.

Ajaran-ajaran ini seolah menjadi guideline bagi mahasiswa UGM untuk menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan. Jika kamu merasa kesulitan menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan akademismu, Tugasin bisa membantumu dengan jasa joki makalah agar kamu punya lebih banyak waktu untuk fokus pada pengembangan diri.

Perbandingan Gadjah Mada Dan Hayam Wuruk Dalam Sejarah

Ada yang masih penasaran, mengapa Hayam Wuruk yang notabene adalah raja tidak dipilih sebagai nama UGM? Padahal, Hayam Wuruk adalah sosok yang membawa Majapahit ke masa keemasannya. Namun, jika kita lihat lebih dalam, pemilihan Gadjah Mada justru memiliki makna yang lebih dalam.

Hayam Wuruk adalah raja yang lahir dari keturunan bangsawan, sementara Gadjah Mada adalah seorang patih yang berasal dari rakyat jelata. Pemilihan nama Gadjah Mada seolah ingin menyampaikan pesan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh latar belakang, tapi oleh kerja keras, visi, dan dedikasi. Selain itu, Gadjah Mada juga dikenal karena kesetiaannya yang luar biasa kepada kerajaan, meskipun ia bukan seorang raja. Hal ini sejalan dengan harapan Soekarno agar UGM melahirkan pemimpin-pemimpin yang berintegritas dan siap mengabdi untuk bangsa.

Ada juga yang berpendapat bahwa nama Gadjah Mada lebih netral dan tidak terlalu terkait dengan satu kerajaan tertentu. Hal ini memungkinkan UGM untuk menjadi institusi yang inklusif dan terbuka bagi semua kalangan, tanpa terikat pada satu identitas sejarah tertentu.

Harapan Soekarno Untuk UGM Melalui Nama Gadjah Mada

Soekarno tidak sembarangan dalam memilih nama untuk universitas ini. Melalui nama Gadjah Mada, ia ingin menyampaikan beberapa harapan besar untuk UGM dan para mahasiswanya:

  1. Menjadi Pemimpin Yang Berintegritas – Seperti Gadjah Mada yang setia dan loyal, Soekarno berharap mahasiswa UGM bisa menjadi pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab.
  2. Ada Semangat Perjuangan – Sumpah Palapa menjadi simbol perjuangan yang tak kenal lelah. Soekarno ingin mahasiswa UGM memiliki semangat yang sama dalam meraih cita-cita.
  3. Tidak Terikat Latar Belakang – Gadjah Mada membuktikan bahwa kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja, tanpa memandang asal-usul. Harapannya, UGM bisa menjadi tempat yang melahirkan pemimpin-pemimpin dari berbagai latar belakang.
  4. Berani Bermimpi Besar – Gadjah Mada memiliki visi untuk menyatukan Nusantara. Soekarno ingin mahasiswa UGM juga memiliki visi yang besar dan berani bermimpi untuk memajukan bangsa.

Harapan-harapan ini tentunya bukan hal yang mudah untuk diwujudkan. Namun dengan tekad dan usaha, kamu bisa menjadi bagian dari generasi penerus yang membawa UGM dan Indonesia ke arah yang lebih baik! Jika kamu merasa terbebani dengan tugas-tugas akademik, jangan ragu untuk menggunakan jasa cek plagiarisme dari Tugasin agar karya ilmiahmu bebas dari plagiat dan berkualitas tinggi.

Apa pendapatmu tentang filosofi di balik nama UGM ini? Apakah kamu merasa terinspirasi oleh sosok Gadjah Mada? Bagikan pemikiranmu di kolom komentar, ya! Dan jangan lupa, jika kamu butuh bantuan dalam menyelesaikan tugas kuliah, Tugasin siap membantumu dengan layanan yang profesional dan terpercaya. Semangat belajar dan terus berjuang untuk meraih cita-citamu!


Tim Redaksi
Tim Redaksi Website
Butuh Bantuan dengan Tugasmu?

Tim ahli kami siap membantu kamu menyelesaikan tugas dengan cepat dan berkualitas.

Konsultasi Gratis