Beasiswa

Dari Pemulung Sampah ke Beasiswa Luar Negeri – Kisah Inspiratif Firna Larasanti!

Bayangkan kamu harus memilih antara membeli buku pelajaran atau membantu orang tua membayar sewa kontrakan. Atau mungkin harus bekerja sebagai buruh pasar setelah pulang sekolah demi membiayai kuliah. Inilah realita yang dihadapi Firna Larasanti, gadis tangguh yang berhasil meraih beasiswa luar negeri dari latar belakang pemulung sampah. Kisahnya membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar. Mau tahu bagaimana dia melakukannya? Simak kisah lengkapnya berikut ini!

Latar Belakang Keluarga Firna Larasanti

Firna tumbuh dalam keluarga sederhana di Semarang. Ayahnya bekerja sebagai buruh rongsok, sementara ibunya menjadi buruh cuci. Mereka tinggal di sebuah gubug kecil di atas tanah milik pemerintah, berpindah-pindah kontrakan sebelumnya. Meski tak pernah mengenyam pendidikan formal, kedua orang tua Firna memiliki prinsip teguh: “Bagaimana pun caranya, anak-anak harus sekolah.” Mereka yakin pendidikan adalah kunci untuk mengubah nasib keluarga.

Untuk membiayai sekolah ketiga anaknya, ayah Firna pernah mencoba berbagai pekerjaan – dari berjualan nasi goreng keliling hingga menjadi buruh bangunan. Sementara ibu Firna bekerja sebagai pembantu dan membantu suaminya mencari barang rongsokan. Kondisi ekonomi yang sulit ini justru membentuk karakter Firna menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras.

Sejak SMP, Firna sudah membantu orang tua dengan mengelupasi botol bekas dan memilah buku bekas. Meski hanya menghasilkan Rp1.000 per hari, ibunya selalu menekankan pentingnya kemandirian. Pesan orang tua yang selalu diingat Firna: “Hidup ini tidak semua harus dinilai dengan materi, karena di sisi lain kita bisa memetik hikmah berupa ilmu kehidupan.”

Butuh bantuan untuk menulis esai inspiratif seperti Firna? Tugasin menyediakan jasa penulisan makalah dan karya ilmiah yang bisa membantumu menyusun cerita perjuanganmu dengan lebih menarik dan profesional!

Perjuangan Pendidikan dari SMP hingga Kuliah

Perjalanan pendidikan Firna penuh dengan tantangan. Saat hendak melanjutkan ke SMA, keluarganya bahkan harus meminjam uang dari bank kecil dengan bunga tinggi. Seringkali mereka harus menahan lapar karena hasil kerja keras orang tua hanya cukup untuk membayar cicilan utang.

Ada beberapa momen krusial dalam perjuangan Firna:

  • SMP: Bekerja mengelupasi botol bekas setelah pulang sekolah
  • SMA: Bekerja di toko kelontong kecil dengan gaji Rp20 ribu/bulan
  • Libur sekolah: Bekerja di pemancingan sebagai pengantar makanan
  • Setiap hari: Berdoa agar bisa membahagiakan orang tua dan meningkatkan derajat keluarga

Setelah lulus SMA, Firna sempat putus asa karena tidak memiliki biaya untuk kuliah. Namun, saat membantu ayah memilah barang rongsokan, ia menemukan buku SNMPTN yang berisi daftar universitas negeri ternama. Momen ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Firna memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa, meski berkali-kali mengalami penolakan:

  • Tidak lolos SNMPTN
  • Tidak lolos Ujian Mandiri Unnes dan Undip

Hingga akhirnya, ayahnya memberikan koran bekas yang berisi informasi beasiswa Bidik Misi di Unnes. Firna mencoba sekali lagi dan dinyatakan lolos sebagai cadangan. “Saat itu aku lemas karena harus membayar uang pangkal Rp7,15 juta padahal keluarga tidak punya uang sepeser pun,” kenangnya.

Strategi Firna menghadapi tantangan ini:

  • Meminta keringanan waktu pembayaran uang pangkal
  • Bekerja sebagai baby sitter dan buruh pasar sambil kuliah
  • Maintain IPK tertinggi se-jurusan di semester pertama

Strategi Mendapatkan Beasiswa Bidik Misi

Di semester kedua, Firna akhirnya resmi menjadi penerima beasiswa Bidik Misi pengganti. Uang saku dari beasiswa ini digunakan untuk mencicil laptop dan membeli buku bekas untuk membantu orang tua mengumpulkan barang rongsok.

Inilah rahasia Firna mempertahankan beasiswanya:

  • Memanfaatkan waktu luang untuk bekerja sambilan
  • Maintain IPK tinggi secara konsisten
  • Aktif dalam kegiatan organisasi kampus
  • Membangun relasi dengan dosen dan senior
  • Mengikuti kompetisi akademik untuk menambah portofolio

Pada 27 Juli 2016, momen wisuda yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Firna tak kuasa menahan tangis saat mengenang perjuangan orang tuanya. Rektor Unnes bahkan merekomendasikannya untuk mendapatkan beasiswa magister luar negeri! Namun Firna tidak langsung berpuas diri. Ia mulai mempersiapkan diri untuk meraih beasiswa LPDP.

Butuh bantuan untuk mempersiapkan dokumen beasiswa seperti Firna? Tugasin menyediakan jasa joki tugas yang bisa membantumu menyelesaikan tugas-tugas akademik dengan cepat dan berkualitas, sehingga kamu bisa fokus mempersiapkan beasiswa impianmu!

Tips Lolos Seleksi Beasiswa LPDP

Firna mulai mencari berbagai referensi tentang beasiswa LPDP. Ia mempelajari persyaratan, tes yang harus dihadapi, dan strategi untuk lolos seleksi. Pada November 2016, Firna mengikuti tes seleksi LPDP di Yogyakarta bersama ibunya yang setia menemaninya.

Inilah tips dari Firna untuk lolos seleksi LPDP:

  • Persiapan Dokumen: Siapkan semua dokumen jauh-jauh hari dan pastikan semuanya lengkap dan valid
  • <n

  • Tes Tertulis: Latih kemampuan menjawab soal-soal tes dengan waktu terbatas
  • </n

  • Wawancara: Persiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan umum seperti motivasi, rencana studi, dan kontribusi untuk Indonesia
  • i

  • Leaderless Group Discussion (LGD): Latih kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam tim
  • On the Spot Writing: Perbanyak membaca dan berlatih menulis esai dengan waktu terbatas
  • i

  • Psikotes: Istirahat yang cukup sebelum tes dan tetap tenang selama mengerjakan
  • </n

Pada 10 Desember 2016, Firna dinyatakan lolos seleksi beasiswa LPDP. “Saat itu aku dan ibu hanya bisa menangis bahagia. Semua perjuangan kami akhirnya membuahkan hasil,” kenangnya.


Tim Redaksi
Tim Redaksi Website
Butuh Bantuan dengan Tugasmu?

Tim ahli kami siap membantu kamu menyelesaikan tugas dengan cepat dan berkualitas.

Konsultasi Gratis